UMRAH DI BULAN RAMADHAN DI INDONESIA

UMRAH DI BULAN RAMADHAN MENYAMAI PAHALA HAJI

UMRAH DI BULAN RAMADHAN MENYAMAI PAHALA HAJI -Salah satu perjalanan yang paling dicita – citakan oleh umat seluruh manusia ialah ibadah umrah. Saat – saat dimana seorang hamba dapat beribadah dan bersujud dengan khusyuk di baitullah ( rumah Allah ).  Jika ditanya, tidak ada barang satu orang pun umat islam yang tidak merindukan tanah suci, apalagi Ka’bah di tanah haram Makkah. Yang mana merupakan tempat dilakukannya dua aktivitas ibadah yang mulia yaitu haji dan umrah.

UMRAH DI BULAN RAMADHAN MENYAMAI PAHALA HAJI -Salah satu perjalanan yang paling dicita – citakan oleh umat seluruh manusia ialah ibadah umrah. Saat – saat dimana seorang hamba dapat beribadah dan bersujud dengan khusyuk di baitullah ( rumah Allah ).  Jika ditanya, tidak ada barang satu orang pun umat islam yang tidak merindukan tanah suci, apalagi Ka’bah di tanah haram Makkah. Yang mana merupakan tempat dilakukannya dua aktivitas ibadah yang mulia yaitu haji dan umrah.

 APAKAH ITU IBADAH UMRAH ?

Umrah (Arab: عمرة‎‎‎) adalah ibadah umat Islam yang dilakukan di Makkah al-Mukarramah khususnya di Masjidil Haram. Ibadah umroh disebut juga sebagai haji kecil sebab mempunyai kemiripan dengan ibadah haji, hanya saja dalam kegiatan umroh tidak melakukan beberapa kegiatan didalam haji seperti wukuf, mabit dan melempar jumrah.

Menurut bahasa, umroh artinya berkunjung ke suatu tempat. Sedangkan menurut istilah, umroh artinya melakukan serangkaian ibadah seperti thawaf (mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran), sa’i (berlari-lari kecil) di antara dua bukit shafa dan marwah, lalu diakhiri dengan tahalul (memotong sebagian rambut kepala).

Dalam arti lain, umrah itu menyengaja (al-qasdu). Yaitu sengaja berkunjung ke Baitullah untuk melakukanThawaf dan Sa’I dengan cara tertentu dan waktu yang tidak ditentukan dengan niat karena Allah SWT.

Segala rangkaian ibadah itu dilaksanakan setelah setiap seorang muslim ihram (niat) untuk umroh dari batas-batas miqat yang telah ditentukan.

Berikut batas-batas miqat tersebut ialah :

1. Yalamlam

Batas miqat yang ditentukan untuk penduduk Yaman atau bagi calon jamaah umroh yang datang dari arah selatan. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 450 KM dari kota Mekah.

2. Rabigh (sebelumnya Juhfah)

Batas miqat yang ditentukan untuk jamaah umroh yang datang dari arah barat. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 187 KM dari kota Mekah.

3. As-Sail (dulu disebut Qarnul Manazil)

Batas miqat yang ditentukan untuk penduduk Najd atau jamaah umroh yang datang dari arah timur. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 94 KM dari kota Mekah.

4. Birr Ali (dulu disebut Dzul Hulaifa)

Batas miqat yang ditentukan untuk penduduk Madinah atau yang datang dari sebelah utara. Batas miqat ini berjarak ± sekitar 450 KM dari kota Mekah

5. Ji’ronah, Tan’im dan Hudaibiyah

Batas miqat yang ditentukan untuk penduduk kota Mekah. Batas-batas miqat tersebut masing-masing berjarak ± sekitar 22 KM (Ji’ronah), 5 KM (Tan’im) dan 29 KM (Hudaibiyah) dari kota Mekah.

TUJUAN DARIPADA IBADAH UMRAH

  • TAKZIM KEPADA ALLAH SWT

Poin pertama yang bisa kita persiapkan sebelum berangkat menuju Baitullah adalah membiasakan diri untuk mengagungkan Allah SWT dengan berbagai syiar-syiar yang indah. Hal tersebut dilakukan agar jiwa ini terbiasa menyebut dan merayu asma Allah SWT dalam setiap kesempatan, serta mensucikan segala sesuatu yang diagungkan oleh Allah SWT. Selain itu, karena tanah suci adalah tempat yang mustajab untuk berdoa dan beribadah, maka sebaiknya kita terbiasa pula untuk memperbanyak shalat shunah, menyisihkan rejeki untuk bersedekah, merutinkan tilawah Al Qur’an, serta berdzikir dan berdoa.

  • SENANTIASA MENCARI RIDHO ALLAH SWT

Setelah itu menanamkan sikap ridho. Ridho kepada Allah SWT bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi pada diri kita sepenuhnya atas kehendak -Nya. Tak lupa melatih diri untuk ikhlas dalam melakukan ibadah semata-mata karna Allah Ta’ala. Dengan mempersiapkan sikap yang ridho dan melatih keikhlasan dalam diri, Insya Allah kita akan selalu berusaha yang terbaik saat melakukan ibadah di tanah suci nanti.

• MEMANJATKAN DO’A, MEMOHON TAUBAT KEPADA ALLAH SWT

Selanjutnya setelah melakukan usaha yang terbaik, poin terakhir yang perlu kita persiapkan adalah meyakini bahwa segala ibadah yang kita lakukan di tanah suci adalah ibadah terbaik yang bisa kita persembahkan. Lalu, kita harus meyakini bahwa doa yang kita panjakan di tanah suci akan terkabul dan terampuni pula segala dosa-dosa kita.

 KEUTAMAAN MEMPERBANYAK IBADAH UMRAH

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan memperbanyak ibadah umrah. Hal ini disebabkan umrah memiliki keutamaan yang agung, yaitu dapat menggugurkan dan menghapuskan dosa-dosa. Hanya saja, mayoritas ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah dosa-dosa kecil, dan tidak termasuk dosa-dosa besar.

Kemudian, kebanyakan para ulama pun menyatakan bolehnya (seseorang) mempersering dan mengulang-ulang ibadah umrah ini dalam setahun sebanyak dua kali ataupun lebih. Dan hadits ini jelas menunjukkan hal tersebut, sebagaimana diterangkan pula oleh Ibnu Taimiyah. Karena memang hadits ini jelas dalam hal pembedaan antara ibadah haji dan umrah. Juga, karena jika umrah hanya boleh dilakukan sekali saja dalam setahun, niscaya (hukumnya) sama seperti ibadah haji, dan jika demikian seharusnya (dalam hadits) disebutkan, “Ibadah haji ke ibadah haji berikutnya…”. Namun, tatkala Nabi hanya mengatakan “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya…”, maka hal ini menunjukkan bahwa umrah boleh dilakukan (dalam setahun) secara berulang-ulang (beberapa kali), dan umrah tidaklah sama dengan haji.

Dan hal lain pula yang membedakan antara haji dan umrah adalah; umrah tidak memiliki batasan waktu, yang jika seseorang terlewatkan dari batasan waktu tersebut maka umrahnya dihukumi tidak sah, sebagaimana halnya ibadah haji. Jadi, dapat difahami apabila waktu umrah itu mutlak dapat dilakukan kapan saja, maka hal ini menunjukkan bahwa umrah sama sekali tidak menyerupai haji dalam hal keharusan dilakukannya sekali saja dalam setahun (lihat Majmu’ul Fatawa, 26/268-269).

Namun, Imam Malik berkata, “Makruh (hukumnya) seseorang melakukan umrah sebanyak dua kali dalam setahun” (lihat Bidayatul Mujtahid, 2/231). Dan ini juga merupakan pendapat sebagian para ulama salaf, di antara mereka; Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan al-Bashri, Sa’id bin Jubair dan Muhammad bin Sirin. Mereka berdalil; bahwa Nabi dan para sahabatnya tidak melakukan umrah dalam setahun melainkan hanya sekali saja.

Namun, hal ini bukanlah hujjah (dalil). Karena Nabi benar-benar menganjurkan umatnya untuk melakukan umrah, sebagaimana beliau pun menjelaskan keutamaannya. Beliau juga memerintahkan umatnya agar mereka memperbanyak melakukan umrah. Dengan demikian, tegaklah hukum sunnahnya tanpa terkait apapun. Adapun perbuatan beliau, maka hal itu tidak bertentangan dengan perkataannya. Karena ada kalanya beliau meninggalkan sesuatu, padahal sesuatu tersebut disunnahkan, hal itu disebabkan beliau khawatir memberatkan umatnya. Dan ada kemungkinan lain,seperti keadaan beliau yang tersibukkan dengan urusan kaum Muslimin yang bersifat khusus ataupun umum, yang mungkin lebih utama jika dipandang dari sisi manfaatnya yang dapat dirasakan oleh banyak orang.

Dan di antara dalil yang menunjukkan keatamaan mempersering dan memperbanyak umrah adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

تَابِعُوابينالحجِّوالعمرةِ ، فإنَّهماينفيانِالفقرَوالذنوبَ ، كمايَنفيالكيرُخَبَثَالحديدِوالذهبِوالفضةِ ، وليسللحجةِالمبرورةِثوابٌإلاالجنةُ

“Iringilah ibadah haji dengan (memperbanyak) ibadah umrah (berikutnya), karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana alat peniup besi panas menghilangkan karat pada besi, emas dan perak. Dan tidak ada (balasan) bagi (pelaku) haji yang mabrur melainkan surga” [Hadits ini dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi (810), dan an-Nasa-i (5/115), dan Ahmad (6/185); dari jalan Abu Khalid alAhmar, ia berkata: Aku mendengar ‘Amr bin Qais, dari ‘Ashim, dari Syaqiq, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu secara marfu’.

Dan at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits hasan shahih gharib dari hadits Ibnu Mas’ud . Hadits ini pada sanadnya terdapat Abu Khalid al-Ahmar, ia bernama Sulaiman bin Hayyan. Dan terdapat pula Ashim bin Abi an-Nujud. Hadits mereka berdua dikategorikan hadits hasan. Karena Abu Khalid al-Ahmar seorang yang shoduqun yukhthi’ (perawi yang banyak benarnya dan terkadang salah dalam haditsnya), sedangkan Ashim bin Abi an-Nujud adalah seorang yang shoduqun lahu awhaam (perawi yang banyak benarnya dan memiliki beberapa kekeliruan dalam haditsnya).

Keutamaan Umrah Antara Lain :

1. Umrah adalah jihad sebagaimana ibadah haji.

 ‘Aisyah berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ « نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لاَ قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ ».

“Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan ‘umroh.” (HR. Ibnu Majah no. 2901, hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani).

2. Menghapus dosa di antara dua umrah.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

3. Umrah menghilangkan kefakiran dan menghapus dosa.

Dari Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih).

Ibadah mulia ini pun dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat baik tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup atau pun ketika sudah tiada. Ini pun menunjukkan kemuliaan ibadah tersebut.

UMRAH DI BULAN RAMADHAN MENYAMAI PAHALA HAJI

Setiap amal saleh di bulan Ramadhan memiliki keutamaan. Di antara amal saleh tersebut Umrah di bulan Ramadhan. Jika memungkinkan bagimu melakukan umrah di bulan Ramadhan, kapan pun waktunya, baik di awal, pertengahan atau di akhir Ramadhan, lakukanlah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bertanya kepada Ummu Sannan al-Anshariah:

“Apa yang mencegahmu berhaji?” Tanya Rasulullah.

“Abu fulan (maksudnya suaminya). Dia memiliki 2 unta, satu dibawa berhaji dan yang satu lagi dipakai mengairi kebun kami.”  Jawab Ummu Sannan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

((فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي))

“Sesungguhnya umrah di Bulan Ramadhan sama dengan haji atau haji bersamaku.”.

[HR. Al-Bukhari]

Jika memungkinkan berumrah bersama kedua orang tuamu atau keluargamu, itu adalah perkara yang baik. Berupayalah menghindari keramaian, seperti berumrahlah pada awal Ramadhan. Jika kedua orang tuamu telah wafat atau salah seorang dari keduanya, jadikan untuk masing-  masingnya umrah Ramadhan. Atau kerjakan umroh untuk yang sudah meninggal sedangkan yang masih hidup bawalah serta berumroh bersamamu. Sekarang ini Alhamdulillah segala urusan umrah telah mudah, tidak sulit lagi, bahkan mudah sekali. Biayanya pun ringan bagi yang tinggal dekat dengan Mekkah atau dalam Kerajaan Saudi, (atau negeri lain) dengan mudahnya transportasi. Manfaatkanlah kesempatan ini. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

((الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ))

“Dari umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus (dosa kecil) antara keduanya, dan haji yang mabrur, tidak ada balasannya selain surga.”

[HR. As-Syakhân]

Jika engkau seorang pegawaic, jangan tinggalkan pekerjaanmu untuk pergi umrah, kecuali engkau telah mendapatkan izin. Karena pekerjaan adalah amanah yang wajib ditunaikan dan dilaksanakan, sedangkan umrah yang kau lakukan mungkin hanya nafilah (ibadah tambahan). Perkara wajib lebih didahulukan dari yang sunah. Nasihat ini umum bagi imam-imam masjid maupun selain mereka. Seorang muslim hendaknya memperhatikan hal ini.

                     Jika engkau melakukan perjalanan umrah maka perjalanan ini adalah safar masyru’ (perjalanan yang disariatkan). Dalam hal ini ada beberapa kondisi:

  1. Jika puasa membahayakan fisikmu atau yang sepertinya, berbukalah, jangan puasa. Jika engkau puasa dengan adanya bahaya engkau telah berbuat maksiat. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- keluar (bersama para sahabat) dalam penaklukan Mekkah pada bulan Ramadhan. Beliau puasa sampai tiba di tempat yang bernama Kurâ’ al-Ghamim dan orang-orang pun masih berpuasa. Setibanya di tempat itu beliau meminta segayung air, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi hingga orang-orang dapat melihatnya, kemudian beliau minum. Setelah itu sampai berita kepada Nabi bahwa sebagian sahabat ada yang masih berpuasa. Nabi pun berkata:

(أُولَئِكَ الْعُصَاةُ، أُولَئِكَ الْعُصَاةُ)

                     “Mereka itu berbuat maksiat, mereka itu berbuat maksiat.”

                     [HR. Muslim]

  • Jika puasa tidak membahayakanmu, tetapi kau dapatkan rasa berat –akibat panas-, maka yang utama bagimu adalah berbuka. Karena ketika Rasulullah dalam perjalanannya mendapati keramaian dan melihat ada orang yang diteduhi, beliau bertanya:

                     “Kenapa dia?”

                     “Dia puasa.” Jawab para sahabat.

                     Rasulullah bersabda:

((لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ))

                     “Bukanlah perbuatan baik, puasa dalam perjalanan.”

  • Jika puasa dan tidak bagimu sama saja, maka engkau bebas memilih. Jika ingin bisa puasa dan jika tidak dapat berbuka. Karena Hamzah Ibn Amr al-Aslamy -radiallahu’anhu- bertanya kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-:

            “Apakah aku boleh berpuasa dalam perjalanan? (dia adalah orang yang banyak berpuasa)”

((إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ))

            “Jika ingin puasa silakan puasa, jika ingin berbuka silakan berbuka.”

                     [HR. As-Syaikhân]

  • Ketahuilah jika engkau melakukan perjalanan di bulan Ramadhan atau selainnya dan engkau biasa melakukan ibadah yang tidak dapat dilakukan selama perjalanan, sesungguhnya  dicatatkan untukmu pahala seperti amalan yang biasa engkau lakukan ketika mukim, demikian pula jika sakit, dicatatkan untukmu pahalanya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

((إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا))

            “Jika hamba itu sakit atau melakukan perjalanan, dicatatkan untuknya pahala seperti amalan yang biasa dilakukannya ketika mukim dan sehat.”

                     [HR. Al-Bukhari]

  • Tetapi apabila seorang hamba muslim dalam perjalanan, manfaatkan efisiensi safarmu dengan shalat di atas kendaraan (mobil, pesawat atau selainnya). Jangan shalat sunah rawatib selain dua rakaat fajar dan witir. Karena Nabi -shalallahu alaihi wasallam- dahulu : “Bertasbih di kendaraannya sebelum bertolak ke suatu arah dan berwitir, hanya saja tidak shalat maktubah (wajib dalam keadaan seperti itu).

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

“Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Dalam hadist riwayat Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim no. 1256)

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863)

APA YANG DIMAKSUD SENILAI DENGAN IBADAH HAJI ?

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

Lalu apakah umrah Ramadhan bisa menggantikan haji yang wajib?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah (ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) pernah menerangkan maksud umrah Ramadhan seperti berhaji bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendapat pertanyaan, “Apakah umrah di bulan Ramadhan bisa menggantikan haji berdasarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berumrah di bulan Ramadhan maka ia seperti haji bersamaku”?

Jawaban Syaikh rahimahullah, “Umrah di bulan Ramadhan tidaklah bisa menggantikan haji. Akan tetapi umrah Ramadhan mendapatkan keutamaan haji berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Umrah Ramadhan senilai dengan haji.” Atau dalam riwayat lain disebutkan bahwa umrah Ramadhan seperti berhaji bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yaitu yang dimaksud adalah sama dalam keutamaan dan pahala. Dan maknanya bukanlah umrah Ramadhan bisa menggantikan haji. Orang yang berumrah di bulan Ramadhan masih punya kewajiban haji walau ia telah melaksanakan umrah Ramadhan, demikian pendapat seluruh ulama. Jadi, umrah Ramadhan senilai dengan haji dari sisi keutamaan dan pahala. Namun tetap tidak bisa menggantikan haji yang wajib.” [Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Baz]

Seperti itulah keutamaan melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan, semoga kita dapat melaksanakannya bersama dengan orang-orang  yang kita cintai. Aamiin Ya Rabbal’ Alamiin ..